Kamis, 06 Oktober 2011

ISLAM DI ANDALUSIA

ISLAM DI ANDALUSIA

Oleh: Rahman Soleh, S.Hum

I. PENDAHULUAN

Fase sebuah sejarah pada umumnya terbagi menjadi tiga fase, yaitu awal mula, kejayaan dan keruntuhan. Dinasti Umayyah di Andalusia juga mengalami hal yang sama dimana setelah fase kejayaan pada masa Abdurrahman III, praktis dinasti ini mengalami kemunduran meskipun ada penerusnya yang cukup cakap, tetapi tidak mampu mempertahankan kejayaan tersebut.

Masa keruntuhan ini ditandai dengan kemunduran diberbagai bidang mulai dari masalah intern maupun ekstern. Dalam masalah intern, yang utama adalah perebutan kekuasaan yang mengalahkan di antara yang lain dengan berbagai cara serta tidak adanya pemimpin Umayyah II yang mampu mempertahankan kejayaan tersebut, sedangkan dalam masalah ekstern yaitu adanya serangan dari suku-suku lain yang menentang terhadap Dinasti Umayyah II.

Dalam pembahasan ini meliputi tentang awal-awal kemunduran Dinasti Umayyah II, kemudian faktor pendorong yang menyebabkan kemunduran tersebut dan terakhir adalah kesimpulan.

II. PEMBAHASAN

A. Kemunduran Dinasti Umayyah II di Andalusia

Masa disintegrasi Bani Umayyah di Andalusia pada tahap awalnya terjadi pada masa tiga Amir terakhir sebelum Abd al-Rahman III, yaitu mulai dari Muhammad I ( 825-886), al Mundzir (886-888) dan Abdullah (888-912).[1] Pada keamiran Abdullah ini kondisi Andalusia mengalami kemunduran seperti yang di tuliskan oleh Ibn al-Atsir dalam bukunya K.Ali, A Study of Islamic History,”Andalusia became filled with disturbance and rebels asore on every side and thus it remained throughout his reign”[2], Abdullah dalam pemerintahannya mendapat banyak tantangan dari berbagai pihak, sehingga tidak mampu mengendalikan kekuasannya. Setelah Abdullah wafat, kemudian digantikan oleh Abdurrahman III yang mampu membawa Andalusia kepuncak kejayaannya. Setelah Abdurrahman III, berturut-turut penerusnya mengalami kemunduran. Perkembangan selanjutnya kemunduran Bani Umayyah ini, pada masa kekhalifahan Hisyam II, yang naik tahta menggantikan ayahnya Al Hakam, dalam usia yang sangat muda yaitu 12 tahun.

Dengan kondisi seperti itu, menyebabkan timbulnya perselisihan di kalangan pejabat tinggi negara dan orang istana, sehingga terpecah menjadi dua kelompok; kelompok militer yang didominasi oleh orang Slav dan kelompok sipil dengan tokohnya al-Hajib al Mansur yang didukung oleh para menterinya. Sementara pihak militer memandang Hisyam tidak mampu memimpin dan mengatur negara karena masih kecil. Oleh karena itu mereka berpendapat kekhalifahan sebaiknya diserahkan kepada pamannya yang bernama al-Mughirah ibn Abdurrahman al-Nashir. Sementara kelompok sipil mengharapkan kekhalifahan dipegang oleh Hisyam, agar kendali pemerintahannya tetap di pegang oleh para punggawa kerajaan bersama khalifah Hisyam II itu. Dalam pertentangan tersebut al-Mughirah terbunuh dengan dugaan kuat dibunuh oleh Muhammad ibn Abdullah ibn Amir al-Ma’arifi, karena ia telah berhasil merebut jabatan al Hajab dengan gelar al-Manshur di samping khalifah Hisyam II.[3] Dengan bantuan dari Subh ( ibunya Hisyam yang menjadi penguasa sesungguhnya di Andalusia, Muhammad ibn Abdullah ibn Amir yang seorang ” this agent was an ambitious man”[4] menjadi penguasa Andalusia, meskipun kemudian Subh sendiri menentang Muhammad, namun tidak berhasil dan akhirnya bersama anaknya menjadi boneka dari Muhammad.

Langkah pertama Manshur setelah menguasai Andalusia adalah menguasai militer. Tujuannya adalah agar Spanyol tergolong negara utama di Eropa.[5] Kebijakannya dalam bidang militer adalah menyusun pasukan dengan cara baru, merobah sistem resimen.[6] Pemerintahan al –Manshur dikenal sebagai salah satu dari aktivitas militer yang besar. Dikatakan bahwa dia telah memimpin 57 ekspedisi yang menang.[7] Pada masa ini Andalusia mengalami kegemilangan yang tidak pernah dialami oleh Abdurrahman III. Baru kemudian setelah sepeninggalan al-Manshur digantikan oleh putranya Abdul Malik al Muzaffar yang diangkat oleh al Mansur sebagai penggantinya berhasil menciptakan persatuan dan kemegahan negara selama enam tahun.

Pada tahun 1008 al Muzaffar diracun oleh saudaranya bernama Abdurrahman, yang bergelar Syarjul (Sanchuelo) yang segera memproklamirkan dirinya seolah-olah sebagai khalifah Umayyah, ini merupakan tindakan yang menyebabkan timbulnya kemarahan rakyat.[8] Abdurrahman sangat tidak populer di mata rakyatnya karena selain memproklamirkan dirinya sebagai khalifah, ia juga kecanduan minuman keras dan mengejek upacara-upacara suci agama Islam. Sehingga menyebabkan kematian baginya. Pada periode selanjutnya setelah kematian Abdurrahman, khalifah demi khalifah bergantian menduduki jabatan, yang hanya menjadi boneka saja.

Tahun-tahun dari 1008-1031 adalah salah satu dari peristiwa yang paling tragis dalam sejarah Spanyol. Dari puncak kemakmuran, kekuatan dan prestasi kebudayaan, Andalusia jatuh ke dalam jurang perang saudara berdarah. Tidak ada kekuasaan pusat yang sanggup mempertahankan persatuan diseluruh negeri. Dimana-mana ada kekacauan. Setiap pemimpin yang muncul ditumbangkan oleh yang lain. Beberapa orang khalifah hanya bertahan dua atau tiga bulan, dan tiada seorangpun yang dapat bertahan dua atau tiga tahun. Di samping Hisyam II, yang terpaksa turun tahta tahun 1009 (diasingkan selama 30 tahun oleh al manshur yaitu sampai tahun 1008 dan satu tahun kemudian ia dipaksa turun karena sikapnya yang kekanak-kanakan dan juga tidak mampunyai power yang kuat untuk memimpin Umayyah II), tetapi kemudian ia diangakat kembali tahun 1010, enam anggota keluarga Umayyah memegang khalifah dalam masa ini. Pada masa Umayyah ini kekhalifahan diselingi oleh tiga anggota keluarga setengah Berber yang terkenal sebagai Hammudiah, yang mengkalim semua hak istimewa kekhalifahan. Pada tahun 1027 Hisyam III alias al Mu’tadd dari Dinasti Umayyah berhasil merebut kembali singgasananya. Dengan usainya yang sudah 54 tahun itu tidak cocok untuk situasi negara yang sedang dilanda kekacauan. Karena lelah dengan bermacam perubahan dalam pemrintahan yang tak kunjung usai, orang Kordova mengambil tindakan radikal dan menghapuskan kekhalifahan sepenuhnya. Tragedi itu terjadi tahun tahun 1031, yang pada saat itu para wazir melakukan pertemuan dewan menteri di Kordova memutuskan penghapusan khalifah dan mendirikan dewan negara yang di ketuai oleh Abu Hazm ibn Jahwar. Dewan ini tentunya hanya memerintah daerah Cordova. Akibat keputusan ini Hisyam terpaksa harus mengemis meminta sebuah pelita dan sepotong roti untuk anaknya yang kelaparan.[9]

Menjelang 1031, tiga puluh kota dalam berbagai ukuran lebih kurang mendapat pemerintahan merdeka. Inilah situasi yang menyebabkan periode ini muncul muluk al tawaif .[10]

B. Sebab-Sebab Keruntuhan Dinasti Umayyah II

Penyebab keruntuhan dinasti ini, fakta yang dapat dilihat di balik keruntuhan adalah apa yang dikenal dengan ”partikulaisme” (paham untuk mementingkan suku atau golongan), baik lokal maupun keturunan. Sulitnya melakukan komunikasi dengan tempat-tempat yang lain, karena faktor geografis banyaknya gunung-gunung, dan hal ini juga yang mendorong kecenderungan setiap daerah untuk menjadi sebuah wilayah yang merdeka. Sementara pada abad ke 10 telah menjadi kebiasaan unutk mendatangkan banyak budak dari Eropa utara atau timur, terkenal sebagai Saqabilla atau ”Slavs”, untuk menjadi tentara dan mengisi pos-pos dalam pemerintahan. Di samping itu ketika al Manshur berkuasa mendatangkan orang-orang Barbar dari Afrika yang bersikap berbeda dengan Barbar yang telah lama bermukim di Andalusia. Dengan fakta ini menunjukkan bahwa di sana telah ada penekanan pembagian rasial.[11] Selain faktor-faktor tersebut ada faktor pendorong lainnya yang menyebabkan keruntuhan Dinasti Umayyah II di Andalusia yaitu:

  1. Konflik Islam dengan Kristen

Para penguasa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna. Mereka sudah merasa puas dengan hanya menagih upeti kerajaan-kerajaan Kristen taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hierarki tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata. Namun demikian, dengan kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Spanyol Kristen. Hal ini menjadikan kehidupan negara tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada abad ke 11, Kristen memperoleh kemajuan pesat, sementara Islam sedang mengalami kemunduran.

  1. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu

Politik Dinasti Umayyah di Andalusia yang di jalankan tidak berbeda jauh dengan yang ada di Damaskus dulu yaitu orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Akibatnya kelompok-kelompok etnis non Arab yang ada sering melakukan kerusuhan dan merusak perdamaian. Hal ini menunjukan tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, selain itu masih kurangnya seorang figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.

  1. Kesulitan Ekonomi

Adanya perkembangan kota yang begitu pesat dengan pembangunan di berbagai tempat serta perhatian besarnya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga lupa terhadap kemajuan bidang ekonomi. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer.

  1. Tidak Jelasnya Sistem Peraliahan Kekuasaan

Sistem peralihan kekuasaan yang terjadi pada akhir-akhir periode kekhalifan menunjukkan ketidak jelasannya sistem tersebut sehingga menyebabkan perebutan kekuasaan diantara ahli waris.

  1. Keterpencilan

Islam di Andalusia ini bagaikan terpencil dari dunia Islam yang lain. Mereka selalu berjuang sendirian, tanpa mendapatkan bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian, tidak ada kekuatan besar yang menjadi pendorong Dinasti Umayyah untuk membendung kebangkitan Kristen di sana.[12]

III. PENUTUP

Kesimpulan

Dinasti Umayyah mengalami kemunduran pada awalnya terjadi pada masa sesudah keamiran Abdurrahman II, yaitu masa Muhammad I, al Munzir,dan Abdullah, akan tetapi kemudian Umayyah dapat bangkit kembali dengan naiknya Abdurrahman III sebagai khalifah yang memiliki kecakapan dalam memimpin Islam di Andalusia, sehingga Umayyah II dapat mencapai puncak keemasannya. Setelah sepeninggalnya Abdurrahman III, para penerusnya tidak mampu mempertahankan kejayaan tersebut, sampai pada akhirnya ketika Hisyam II, naik tahta ( usianya 12 tahun), dinilai belum mampu menjalankan pemerintahanya, maka seorang pegawainya yang merupakan anak didik ibunya ( Subh ), menjadi penguasa di Andalusia sebenarnya, dan Hisyam pun hanya menjadi bonekanya, serta diasingkan selama 30 tahun.

Keruntuhan dinasti ini terjadi setelah meninggalnya Muhammad ibn Abdullah ibn Amir dan di gantikan oleh anaknya. Dari periode ini sampai akhir di hapusnya khalifah dan di gantikan dengan dewan negara praktis mengalami berbagai permasalahan baik masalah intern seperti perebutan kekuasan di antara para ahli waris maupun adanya perpecahan dalam negeri yang kemudian melahirkan muluk al tawaif.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, K. A Study of Islamic History. India: IDARAH-IADABIYAT-I DELLI, 1950. Al-Jami’ah, No. 38, Th. 1989.

Hitti, Philip K. History of the Arabs. Jakarta: Serambi, 2008.

Karim, M. Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka

Book Publisher, 2007.

Mahmudunnasir, Syed. Islam Konsepsi dan Sejarahnya, terj. Adang Affandi.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994.

Umar, Muin. Islam di Spanyol. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1975.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1993.



[1] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam ( Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hlm. 246.

[2] K. Ali, A Study of Islamic History ( India: IDARAH-IADABIYAT-I DELLI, 1950 ), hlm. 315.

[3] Karim, Sejarah, hlm. 247.

[4] Ali, A Study of Islamic, hlm. 323.

[5] Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, terj. Adang Affandi ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994 ), hlm. 309.

[6] Philip K. Hitti, History of the Arabs ( Jakarta: Serambi, 2008 ), hlm. 677.

[7] Umar Asasuddin Sokah, ”Kenapa Islam Lenyap Sama Sekali Dari Spanyol” dalam al-Jami’ah, No. 38, Th. 1989 ( Yogyakarta: IAIN Sunan kalijaga, 1989 ), hlm. 46.

[8] Muin Umar, Islam di Spanyol ( Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1975 ), hlm. 30.

[9] Hitti, History, hlm. 682.

[10] Sokah, “Kenapa Islam”. hlm. 47

[11] Ibid.

[12] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam ( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1993 ), hlm. 107-108.